Selasa, 15 Desember 2009

Remaja Islam Cerdas

REMAJA ISLAM CERDAS
JILBAB GAUL VS JILBAB SYAR’I

Jilbab. Everybody knows it. Benda yang menutup kepala ini sering juga disebut tudung, kudung, kerudung, etc. Nowadays, sering kita melihat muslimah berjilbab—di sekolah, di kampus, di pasar and in other public places. It means, jilbab bukan barang asing lagi bagi masyarakat. Bandingkan dengan kondisi jilbab 10 years ago or exactly during pemerintahan presiden Soeharto. Bukankah kita sulit menemui muslimah berjilbab? Saat itu muslimah memang tidak diberi kebebasan (baca: dilarang) untuk mengenakan jilbab terutama di sekolah, di kampus, di instansi pemerintahan, etc. (Duuh…sedih ya, katanya ini negeri muslim, tapi orang islamnya sendiri ‘terjajah’?)
Ketika reformasi (apa ‘repot nasi’?) datang, the freedom to use jilbab, akhirnya dapat kita peroleh—dengan serangkaian perjuangan yang panjang tentunya. Jilbaber (muslimah berjilbab) pun sudah tidak memandang golongan lagi. Mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, pegawai pemerintahan, ibu-ibu pejabat yang terhormat, hingga para selebritis pun ‘rame-rame’ pake jilbab.

But, sahabat2, jika kita perhatikan, dibalik semaraknya penggunaan jilbab saat ini, ada sesuatu yang ‘mengerikan’ (Oow…apa itu?). Ada ‘penurunan kualitas’ jilbab saat ini. Jika dulu, muslimah yang berjilbab tidak banyak namun insyaAllah berjilbab dengan benar sesuai dengan syari’at, maka sekarang sebaliknya. Muslimah yang berjilbab banyak, namun jilbabnya belum sesuai dengan syari’at.
Betapa sering kita melihat muslimah yang kepalanya tertutup—bahkan seluruh tubuhnya, namun auratnya malah semakin nampak. Jilbabnya transparan, pendek, lalu diikatkan ke leher. Jilbab with this style is called Jilbab Gaul.

JILBAB GAUL itu…

Jilbab Gaul in Abu Al-Ghifari’s view dalam bukunya Kudung Gaul, Berjilbab Tapi Telanjang, defined as jilbab yang masih menampakkan aurat sebab ukurannya yang teramat pendek, tipis transparan dan dililitkan ke leher sehingga dadanya nampak. Mengapa disebut ‘Jilbab Gaul’? Berhubung jilbab sudah menjadi trend dalam pergaulan, maka supaya disebut gaul dan trendy, dipakailah jilbab jenis ini, dan karena alasan berjilbabnya pun hanya untuk ‘gaul’ maka disebutlah jilbab ini sebagai jilbab gaul.
Pengguna jilbab like that usually uses kaos/kemeja/baju yang ketat dan dipadukan dengan celana (biasanya jeans) yang super ketat pula. Sehingga lekuk tubuh dari muslimah ini terlihat dengan jelas. Jilbab semacam ini adalah jilbab yang tidak syar’i. In other words tidak sesuai dengan apa yang Allah tetapkan atasnya. Lalu, bagaimana dengan Jilbab Syar’i?

Allah telah menjelaskannya dalam surah An-Nur ayat 31.
"Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya…"

Dengan demikian jilbab yang syar’i mesti terhulur sampai ke dada, hingga tidak ada sesuatu yang terlihat, erm…’menonjol’ daripadanya.
Jilbab syar’i mesti dipadukan dengan pakaian yang syar’i pula. Pakaian yang syar’i salah satu cirinya adalah tidak menampakkanbentuk tubuh. Adalah sia-sia if seorang muslimah covers her head but the clothes she uses masih menampakkan aurat—transparan, ketat ‘mencetak’ sehingga lekuk2 tubuhnya terlihat.

Rasulullah SAW bersabda: "Dari ‘Aisyah ra bahwasanya Asma binti Abu Bakar ke tempat Rasulullah dan dia (Asma) memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling seraya bersabda, ‘Hai Asma, sesungguhnya apabila perempuan telah dewasa, tidak menampakkan sesuatu darinya kecuali ini dan ini’, sambil Rasulullah menunjukkan muka dan telapak tangan hingga pergelangan tangan." (HR. Abu Dawud)

Kalaulah sekarang ini kita sering menjumpai muslimah dengan style jilbab gaul, maka hakikatnya muslimah tersebut belum menutup aurat.
Memang, disisi lain kita patut bersyukur dengan perkembangan jilbab saat ini. Juga bersykur karena kita mendapatkan kebebasan untuk menggunakannya everywhere. Namun, kebebasan ini bukan berarti "suka-suka gue". Jilbab adalah perintah Allah dan Allah pula telah menetapkan aturan-aturannya.
How beautiful seandainya seluruh muslimah berjilbab dengan benar dan pakaiannya dapat menutup aurat dengan sempurna. Jilbab yang panjang, yang terhulur hingga ke dada bukanlah penghalang bagi muslimah dalam beraktivitas (sering kita dengar alasan seperti itu).

Sesungguhnya peraturan yang Allah tetapkan itu semuanya demi kebaikan kita. Dengan segala KemahatahuanNya, Allah turunkan perhiasan (pakaian) terbaik bagi muslimah yang dengannya terlindunglah kita dari berbagai fitnah. Maka, ketika seorang muslimah break the rules atau lari dari ketentuanNya, hakikatnya dia sedang mencelakakan dirinya sendiri.

Wahai muslimah, mari sempurnakan cara menutup aurat kita, syukuri kebebasan berjilbab saat ini dengan menggunakan jilbab syar’i dan tinggalkan jilbab gaul itu.

Rabu, 25 November 2009

Universiti Muhammadiyah of Yogyakarta

Sejarah Ringkas Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan dengan 18 November 1912 Miladiyah. Perkataan “Muhammadiyah” dinisbahkan kepada nama Muhammad, Nabi dan Rasul akhir zaman. Penisbahan itu dimaksudkan guna mengikuti jejak perjuangan Rasulullah untuk kemudian melanjutkan risalah dakwahnya dalam kehidupan umat manusia, khususnya di Tanah Air Indonesia. Karenanya Muhammadiyah sebagaimana dirumuskan dalam Anggaran Dasar hasil muktamar ke-45 tahun 2005 menyatakan jatidirinya sebagai Gerakan Islam dan Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar, berakidah Islam bersumber pada Al-Quran dan Sunnah.
Secara formal, tujuan dari Gerakan Muhammadiyah yang membawa misi dakwah dan tajdid adalah “terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Masyarakat semacam ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: pertama, memiliki keseimbangan antara kehidupan lahiriyah dan batiniyah, individual dan sosial, duniawi dan ukhrowi dan seterusnya; kedua, mengamalkan nilai-nilai kebajikan, seperti keadilan, kejujuran, kedisiplinan dan seterusnya, ketiga, bersedia bekerjasama dan berlomba-lomba dalam kebaikan; keempat, memiliki kesamaan karakter dengan masyarakat madani (civil society); kelima, berperan sebagai shuhada’ ‘alannas; keenam, menjadi masyarakat yang serba unggul atau utama (khaira ummah); ketujuh, memiliki kepedulian tinggi terhadap kelangsungan ekologis dan martabat hidup manusia; kedelapan, menjauhkan diri dari pelilaku yang membawa kerusakan (alfasad).

Selintas Perjalanan UMY

Perhatian utama kepada pengembangan SDM mendorong para aktivis Muhammadiyah mengikhtiarkan berdirinya suatu universitas di “Ibu Kota” Muhammadiyah, Yogyakarta. Niat mendirikan Universitas MuhammadiyahYogyakarta (UMY) telah ada sejak lama. Prof. Dr. Kahar Muzakkir dalam berbagai kesempatan melemparkan gagasan perlu didirikannya Universitas Muhammadiah. Ketika Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pengajaran meresmikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di yogyakarta pada 18 Nopember 1960, secara eksplisit piagam pendiriannya mencantumkan FKIP sebagai bagian dari Universitas Muhammadiyah. Barulah, pada Maret 1981, melalui perjuangan keras beberapa aktivis Muhammadiyah seperti Drs. H. Mustafa Kamal Pasha, Drs. M. Alfian Darmawan, Hoemam Zainal, S.H., Brigjen. TNI. (Purn.) Drs. H. Bakri Syahid, K.H. Ahmad Azhar Basyir, M.A., Ir. H.M. Dasron Hamid, M.Sc., H.M. Daim Saleh, Dr. M. Amien Rais, H.M.H. Mawardi, Drs. H. Hasan Basri, Drs. H. Abdul Rosyad Sholeh, Zuber Kohari, Ir. H. Basit Wahid, serta didukung oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu, K.H. A.R. Fakhruddin dan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, H. Mukhlas Abror, secara resmi didirikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yang kemudian berkembang sampai hari ini.
Pada saat ini, UMY kini telah memiliki 7 fakultas, yaitu Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Agama Islam, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Program Pascasarjana S2 dan S3.




Visi, Misi dan Tujuan UMY

1. Visi UMY
Visi UMY dirumuskan sebagai berikut:
“Menjadi Universitas unggul dan islami”.

2. Misi UMY
Misi UMY dirumuskan sebagai berikut:
a. Meningkatkan harkat manusia dalam upaya meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban.
b. Berperan sebagai pusat pengembangan Muhammadiyah untuk menyejahterakan dan mencerdaskan umat.
c. Mendukung pengembangan Yogyakarta sebagai wilayah yang menghargai keragaman budaya.
d. Menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengembangan masyarakat secara profesional
e. Mengembangkan peserta didik agar menjadi lulusan yang berakhlak mulia, berwawasan dan berkemampuan tinggi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Tujuan UMY
Tujuan UMY dirumuskan sebagai berikut :
Terwujudnya sarjana muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya diri, mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berguna bagi umat, bangsa dan kemanusiaan.

Sejarah Singkat Fakultas Ekonomi

Fakultas Ekonomi UMY didirikan pada tanggal 24 Rabi’ul Akhir 1401 H, bertepatan dengan tanggal 1 Maret 1981 M. Pada saat ini Fakultas Ekonomi menyelenggarakan pendidikan tinggi Strata 1 di bidang program Ilmu Ekonomi, meliputi Program Studi Manajemen, Program Studi Akuntansi, dan Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Program Strata 2 yang mendukung Fakultas Ekonomi UMY adalah Program Studi Magister Manajemen.
Program Studi Manajemen mempersiapkan lulusan yang mempunyai keunggulan Managership dan Entrepreneurship dengan dibekali landasan etika dan moral yang kuat.
Program Studi Akuntansi mempersiapkan lulusan yang memiliki sikap dan keahlian profesional. Sikap profesional dikembangkan dengan pengarahan perilaku yang mendukung etika profesi dan akhlak yang islami. Keahlian profesional dikembangkan melalui landasan keilmuan yang kuat dengan dukungan kemampuan berbahasa Inggris, pratikum-pratikum manual maupun berbasis komputer.
Program Studi Ilmu Ekonomi mempersiapkan lulusan yang berakhlak mulia dengan penguasaan teori ekonomi yang kuat, analisis tajam, serta keahlian manajemen dan kewirausahaan yang baik.
Bagi para alumni fakultas ekonomi dapat melanjutkan studinya ke Program Studi Magister Manajemen Pascasarjana UMY untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan kemampuan praktis di bidang bisnis. Program Studi Magister Manajemen mempersiapkan lulusan yang memiliki: kemampuan menentukan kebijakan (judgement skill), kemampuan dalam memecahkan masalah (problem solver skill), kemampuan dalam pengambilan keputusan (decision making skill), dan kemampuan kewirausahaan (enterpreneurship skill).

VISI, MISI, TUJUAN UMUM, DAN TUJUAN KHUSUS
1. Visi

Menjadi Fakultas Ekonomi yang unggul dan islami.
2. Misi

Membangun Fakultas Ekonomi yang berorientasi ke masa depan, unggul di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bertumpu pada penguatan iman dan taqwa kepada Allah SWT serta bermanfaat bagi stakeholders.

3. Tujuan Umum
Menghasilkan sarjana ekonomi yang berakhlak mulia, cakap, percaya diri, dan mampu mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimiliki, sehingga berguna bagi masyarakat dan negara.

4. Tujuan Khusus
Terwujudnya sarjana ekonomi yang memiliki:
a. Kemampuan mengenali, menelaah, menganalisis, dan memecahkan masalah ekonomi terutama dibidang bisnis yang dijiwai nilai-nilai islami.
b. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengetahuan profesi yang memadai, bagi peningkatan taraf kehidupan masyarakat.
c. Memiliki kemampuan, keberanian, dan keuletan bergerak sendiri dalam bidang bisnis.

syair-syair_ku

jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu,
Maka bakarlah aku dengan api jahanam.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga-Mu,
Maka haramkanlah aku memasukinya.
Namun jika aku beribadah kepada-Mu karena cinta kepada-Mu saja,
Maka janganlah engkau haramkan aku untuk menyaksikan wajah-Mu.
Duhai Tuhan, jadikanlah neraka itu untuk musuh-musuh-Mu,
Dan surga untuk para kekasih-Mu,
Sedangkan untuk aku, cukup Engkau saja, ya Rabb..............


Aku mengabdi kepada Tuhan Bukan karena takut neraka......
Bukan pula karena mengharap masuk Surga.........
Tetapi aku mengabdi karena cintaku pada-Nya
Ya Allah jika aku menyembah-Mu
Karena takut kepada neraka, bakarlah aku didalamnya,
Dan jika aku menyembah-Mu
Karena mengharapkan surga, campakkanlah aku Dari dalam surga,
Tetapi jika aku menyembah-Mu Demi Engkau semata, Janganlah Engkau enggan
Memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepa